Upacara Hardiknas diwarnai pementasan tari Pamonte oleh 500 orang Guru SD Tampilkan Tari Pamonte Dan dimeriahkan Musik Live dan Penyanyi Top.F-dok.ist
SULTENGMEMBANGUN.id, PALU – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Tahun 2026 di Kota Palu berlangsung sangat meriah dan penuh warna. Meskipun tanggal peringatan nasional jatuh pada 2 Mei yang bertepatan dengan hari libur, upacara dan puncak acara digelar pada Senin (4/5/2026) di halaman Kantor Wali Kota Palu.
Berbagai penampilan seni dan budaya mewarnai kegiatan tersebut. Mulai dari atraksi drumband yang lucu dan menggemaskan dari siswa TK/PAUD, tarian kreatif guru PAUD, hingga atraksi utama yang memukau, yaitu tarian Pamonte yang ditampilkan secara massal oleh ratusan guru SD se-Kota Palu.

Tarian yang ditampilkan kali ini adalah Tari Legend Pamonte, karya dari seniman besar Sulawesi Tengah, Almarhum Hasan Bahsuan. Tarian ini dibawakan secara massal oleh 500 guru SD se-Kota Palu dengan gerakan yang kompak dan penuh semangat.
Yang membuat penampilan ini semakin istimewa, tarian ini tidak menggunakan musik rekaman, melainkan diiringi langsung oleh musik live dari siswa SMPN 15 Palu. Selain itu, suasana semakin syahdu dan megah dengan vokal andalan dari penyanyi terkenal daerah, Laila Bahasyuan dan Masriani Sukri.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palu, Hardy, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa penampilan Tari Pamonte ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari upaya serius mempertahankan dan mewariskan budaya daerah kepada generasi muda.

“Tari Pamonte ini merupakan salah satu tarian tradisional masyarakat adat suku Kaili yang mayoritas keberadaannya mendominasi di Kota Palu. Tarian ini selalu disuguhkan untuk mengawali berbagai kegiatan resmi pemerintahan,” ujar Hardy.
Lebih lanjut dijelaskan, tarian ini memiliki makna mendalam sebagai bentuk penyambutan.
“Jadi tarian ini dijadikan sebagai tarian penyambut tamu yang datang di tanah Kaili. Makanya tarian ini diajarkan di semua sekolah di Palu sebagai salah satu cara dalam melestarikan tarian khas daerah kepada generasi muda,” tegasnya.
Nama Tari Pamonte sendiri sudah sangat dikenal luas. Tarian ini bahkan pernah mencatatkan prestasi membanggakan dengan meraih rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) saat ditampilkan oleh sekitar 2.000 penari secara massal di Lapangan Vatulemo beberapa tahun lalu.
Kini, di momen Hardiknas 2026, tarian yang sarat makna budaya ini kembali dihadirkan dengan semangat yang sama oleh para guru. Diharapkan, melalui gerakan dan langkah para pendidik ini, kekayaan budaya khas Sulawesi Tengah dapat terus lestari dan dikenal oleh generasi penerus bangsa.***







