Kepala Kemendukbangga BKKBN Sulteng, Nuryamin saat berkunjung ke sentra Nipotowe Palu, Selasa 4 Agustus 2026.F-dok.ist
SULTENGMEMBANGUN.id, PALU – Kelompok lanjut usia dari keluarga rentan di Sulawesi Tengah kini berpeluang besar mendapatkan pendampingan yang utuh dan menyeluruh melalui rencana pengembangan Sekolah Lansia. Program ini tak hanya sebatas pemberian edukasi kesehatan, namun juga menyertakan dukungan pemberdayaan ekonomi yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing peserta.
Prioritas utama program ini ditujukan bagi lansia yang masuk kategori Desil 1 dan Desil 2, serta memiliki tingkat kerentanan tinggi—seperti hidup sebatang kara, tak memiliki pendamping keluarga, maupun berada dalam garis kemiskinan.
Komitmen tersebut terungkap dalam kunjungan kerja Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Tengah, Nuryamin, ke Sentra Nipotowe Palu pada Selasa (4/8/2026). Pertemuan ini digelar guna membahas langkah sinergi penguatan layanan bagi kelompok lanjut usia bersama jajaran pimpinan Sentra Nipotowe.

Nuryamin menjelaskan, seiring meningkatnya angka harapan hidup masyarakat, jumlah penduduk lanjut usia di Sulawesi Tengah terus bertambah dan memerlukan perhatian yang lebih serius dari semua pihak. Oleh karena itu, pihaknya mendorong agar Sekolah Lansia tak hanya menjadi ruang pembelajaran biasa, melainkan terhubung erat dengan berbagai layanan sosial dan program pemberdayaan.
“Kami ingin Sekolah Lansia mampu menjawab kebutuhan riil para lansia. Bila ada yang membutuhkan tongkat, kursi roda, atau alat bantu lainnya, tentunya kami siapkan. Fokus utamanya tetap pada masyarakat kategori Desil 1 dan Desil 2,” tegas Nuryamin.
Sementara itu, Kepala Sentra Nipotowe Palu, Diah Rini Lesmawati, menyampaikan agar pendampingan berjalan berkelanjutan, pihaknya mengusulkan penyusunan agenda kegiatan mingguan bersama BKKBN. Materi Sekolah Lansia nantinya akan diselang-seling dengan program rehabilitasi sosial berbasis komunitas milik Sentra Nipotowe.
“Tinggal kita susun jadwal mingguan, menggabungkan materi Sekolah Lansia dengan pemantauan wirausaha dari kami serta pemeriksaan kesehatan gratis,” ujar Diah.
Saat ini, Sentra Nipotowe telah membina 15 penerima manfaat dengan beragam latar belakang permasalahan sosial—sebagian besar merupakan korban kekerasan seksual. Sentra ini menerima layanan bagi kelompok rentan mulai dari usia anak hingga lanjut usia, dengan syarat membawa rekomendasi resmi dari Dinas Sosial kabupaten/kota setempat. Meskipun tetap memprioritaskan Desil 1 dan 2, warga hingga kategori Desil 5 pun masih bisa dilayani sesuai hasil asesmen kebutuhan.
Dalam hal pemberdayaan ekonomi, Sentra Nipotowe telah menyiapkan sejumlah pelatihan seperti membatik teknik ciprat, beternak itik, hingga pengolahan telur asin—semuanya disesuaikan dengan kondisi fisik dan lingkungan tempat tinggal peserta. Setiap calon peserta akan menjalani asesmen terlebih dahulu untuk memetakan potensi, kesehatan, serta kemampuan mobilitas sebelum mengikuti pelatihan dan mendapatkan bantuan sarana usaha.
Kegiatan pelatihan dimulai dengan bimbingan teknis selama tiga hari yang mencakup teknik budidaya, praktik lapangan, hingga dasar kewirausahaan. Peserta yang lolos asesmen juga berhak memperoleh bantuan 25 ekor itik sebagai sarana belajar sebelum menjalankan usaha secara mandiri.
Pihak Sentra juga mengusulkan agar pendampingan usaha dipadukan dengan jadwal rutin Sekolah Lansia, yang diisi materi kesehatan, pemantauan perkembangan usaha, serta layanan pemeriksaan kesehatan gratis. Kerja sama pun akan diperluas dengan Balai Latihan Kerja (BLK) agar peserta yang memenuhi syarat bisa mengikuti pelatihan bersertifikat resmi.
Usai pertemuan, Nuryamin beserta rombongan meninjau langsung sejumlah fasilitas yang ada di Sentra Nipotowe, mulai dari klinik kesehatan, ruang pelatihan menjahit, kelas tata boga, area pelatihan ecoprint, hingga gedung Sekolah Rakyat.(*rls)







