Petani Kakao Poso Bangga Hasil Panennya Diekspor ke Prancis, Berharap Harga Tetap Stabil

Sabaruddin, petani Desa Pandayora, sampaikan harapan soal kepastian harga, pendampingan koperasi, dan ketersediaan pupuk bersubsidi yang masih kekurangan.

SULTENGMEMBANGUN.id, POSO – Keberhasilan pengiriman biji kakao hasil bumi Desa Pandayora ke luar negeri, tepatnya ke Prancis, membawa rasa bangga tersendiri bagi para petani setempat. Salah satunya adalah Sabaruddin, petani dari Kelompok Tani Mekar‑3 (Mitra Tani‑3) Desa Pandayora, Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso.

” Saya merasa bangga sekali, karena biji cokelat dari daerah kita sendiri bisa diproses dan dikirim sampai ke Prancis,” ungkap Sabaruddin saat diwawancarai awak media disela kegiatan penandatanganan MoU dan Business Matching Sistem Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) yang digelar oleh OJK Sulteng pada Selasa 13 Oktober 2026.

Meskipun bangga dengan potensi ekspor kakao, harapan utama petani seperti Sabaruddin adalah kepastian harga jual yang stabil. Saat ini harga kakao kering berada di kisaran Rp90.000 per kilogram. Padahal pada tahun sebelumnya, harga pernah mencapai Rp170.000‑Rp200.000 per kilogram.

” Kalau harganya naik, kami bisa mengikuti anjuran penyuluh dengan baik.  Kalau harganya tidak ada perubahan atau turun, kami hanya bertani seperti biasa saja.Kami tidak tahu penyebab harga turun, hanya mengikuti harga pasar yang ada,” kata Sabaruddin.

Pada kegiatan itu juga hadir dari BPJS Ketenagakerjaan. dan menurutnya itu Nah, Terkait program perlindungan pekerja, Sabaruddin menyebut sebagian besar petani di desanya belum terdaftar menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan, termasuk dirinya sendiri. Namun ia berencana mendaftar secara mandiri. Menurutnya iuran untuk BPJS tenaga kerja mandiri sekitar Rp35.000 per bulan dan menurutnya itu masih terjangkau, ibarat uang rokok untuk mendapatkan jaminan kecelakaan kerja, hari tua, dan jaminan kematian.  Hambatan utama bagi petani adalah minimnya sosialisasi dan informasi tentang program tersebut.

Ia juga berharap kehadiran Koperasi Karya Bersama (KKB) dapat terus memberikan pendampingan, membuka informasi harga yang jelas, dan melindungi petani agar tidak bergantung pada pengepul yang sering menekan harga jual.

Terakhir, Sabaruddin meminta perhatian pemerintah pusat dan daerah untuk menjaga ketersediaan pupuk, karena kelangkaan pupuk sangat berpengaruh terhadap hasil panen kakao para petani di wilayahnya.(*Nila)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *