SULTENGMEMBANGUN.id, JAKARTA – Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 dilaksanakan dengan serangkaian prosedur ketat untuk memastikan akurasi data. Kegiatan witnessing dilakukan oleh Kantor OJK Daerah dan BPS Pusat di seluruh provinsi guna memantau kinerja Petugas Pendata Lapangan (PPL) agar pendataan berjalan sesuai standar.
Pendataan lapangan berlangsung pada 4–18 Februari 2026, menyasar 75.000 responden berusia 15–79 tahun di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota, yang mencakup 7.500 Satuan Wilayah Setempat (SLS). Sebanyak 2.744 PPL dan 1.016 Petugas Pemeriksa Lapangan (PML) terlibat, dengan setiap PPL bertanggung jawab atas 2–3 SLS dan didampingi PML. Wawancara dilakukan secara tatap muka menggunakan aplikasi Computer Assisted Personal Interviewing (CAPI).
Hasil SNLIK 2026 akan menggambarkan kondisi literasi dan inklusi keuangan masyarakat pada tahun 2025. Data ini menjadi acuan penting untuk mengejar target nasional, yaitu literasi keuangan sebesar 69,35% dan inklusi keuangan 93,00% pada 2029 sesuai Perpres Nomor 12 Tahun 2025, serta inklusi keuangan 98,00% pada 2045 berdasarkan UU Nomor 59 Tahun 2024.
Untuk mencapai target tersebut, OJK juga menggelar Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) secara masif bekerja sama dengan berbagai stakeholder, termasuk perbankan, pasar modal, asuransi, dan asosiasi. OJK, LPS, dan BPS menegaskan komitmen bersama untuk menyusun kebijakan berbasis data akurat dan objektif, guna menghadirkan program yang tepat sasaran, inklusif, dan berkelanjutan, serta membangun kepercayaan publik dalam ekosistem keuangan yang sehat.***







