Tokoh Masyarakat Poboya Desak Perselisihan Dua Jurnalis Diselesaikan Jalur Kekeluargaan

Berita, Hukum, Kota Palu298 Dilihat

Talib, Ketua Pemuda Poboya dan Manajer Posakaya Racing Team minta kasus perselisihan antar wartawan di mediasi, damai.F-ist

SULTENGMEMBANGUN.id, PALU –  Perselisihan hukum yang melibatkan dua jurnalis di Kota Palu terkait isu pertambangan rakyat di Poboya mendapat perhatian serius dari tokoh masyarakat dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) setempat. Mereka sepakat mendesak kedua belah pihak untuk menyelesaikan masalah ini melalui jalur damai, musyawarah, dan kekeluargaan.

Kasus bermula dari laporan dugaan pengancaman lewat pesan WhatsApp yang dilayangkan Moh. Nasir Tula –jurnalis sekaligus warga Poboya– terhadap sesama jurnalis, Ikram. Keduanya diketahui telah lama saling mengenal dan berteman baik.

Nasir menjelaskan perbedaan pandangan terkait pemberitaan aktivitas pertambangan di wilayah itu menjadi pemicu awal. Ia menegur agar tidak sembarangan menyebut kegiatan tambang di sana sebagai aktivitas ilegal, mengingat ribuan warga menggantungkan hidup dan mempertahankan hak atas tanah ulayat di sana.

“Saya hanya menegur, namun merasa teguran itu tidak direspons sehingga saya sempat terpancing emosi dan mengirim pesan yang kemudian dipersoalkan,” ujar Nasir yang kini telah diperiksa penyidik Subdit II Direktorat Reserse Siber Polda Sulteng.

Menanggapi hal itu, Tokoh Pemuda Poboya, Thalib, meminta kedua belah pihak mengedepankan musyawarah tanpa saling menyalahkan.

“Kami tidak memihak siapa pun. Setiap masalah pasti ada sebab-akibatnya. Harapan kami, selesaikan dengan kepala dingin agar suasana tetap kondusif,” ujar Thalib di kediamannya, Selasa (28/7/2026).

Ia juga berharap seluruh media yang memberitakan isu pertambangan rakyat di Poboya senantiasa melakukan konfirmasi menyeluruh ke berbagai pihak agar informasi yang disampaikan utuh, berimbang, dan tidak merugikan masyarakat.

Ketua LPM Poboya, Yayan Sofyan

Sementara itu, Ketua LPM Poboya, Yayan Sofyan, mengungkapkan laporan yang diajukan diduga muncul akibat respons emosional Nasir yang merasa pemberitaan tersebut kurang berpihak pada nasib warga penambang.

“Sepengetahuan kami, saudara Nasir sudah berupaya meminta maaf secara kekeluargaan. Kami berharap persahabatan sesama insan pers dapat segera terjalin kembali,” kata Yayan, Rabu (29/7/2026).

Yayan juga mengundang seluruh elemen masyarakat dan awak media untuk datang langsung ke Poboya guna melihat kondisi nyata warga yang menggantungkan penghidupan dari aktivitas pertambangan rakyat.

“Kami terbuka. Agar informasi yang disampaikan kepada publik lebih komprehensif dan utuh,” tambahnya.

Lebih jauh, ia meminta perhatian pemerintah terkait kepastian regulasi dan legalitas aktivitas pertambangan yang telah berlangsung lama itu, mengingat tidak hanya warga setempat, melainkan masyarakat dari berbagai daerah juga bergantung pada sektor tersebut untuk menopang ekonomi keluarga.(*rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *