Oleh: Athif Muhyiddin Hishad
SULTENGMEMBANGUN.id, PALU – Ketegangan geopolitik akibat konflik yang melibatkan sejumlah negara besar semakin memanas. Situasi ini tidak hanya berdampak pada keamanan global, tetapi juga terasa nyata di dalam negeri melalui ancaman krisis energi. Kenaikan harga BBM nonsubsidi, gas elpiji, hingga bahan baku industri menjadi bukti bahwa guncangan di luar negeri langsung memukul ekonomi masyarakat.
Pemerintah telah berupaya menenangkan situasi, namun keresahan publik sulit dihindari. Padahal, Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah. Pertanyaannya, bagaimana kita bisa mandiri dan tidak terus-menerus bergantung pada situasi di luar negeri?
Salah satu jawabannya terletak pada pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT), khususnya bahan bakar nabati atau biofuel. Sumber energi ini dinilai sangat relevan dan potensial dikembangkan di tanah air.
Secara umum, ada tiga jenis biofuel yang bisa dimanfaatkan:
1. Biodiesel: Terbuat dari minyak nabati seperti sawit, kedelai, hingga minyak jelantah (bekas pakai), cocok untuk mesin diesel.
2. Bioetanol: Diolah dari bahan berpati atau bergula seperti tebu, jagung, dan singkong, yang bisa dicampurkan ke dalam bensin.
3. Biogas: Dihasilkan dari fermentasi kotoran hewan atau sampah organik, bisa digunakan untuk kebutuhan rumah tangga maupun pembangkit listrik.
“Bahan bakunya sangat melimpah, bahkan sering kali kita anggap sampah atau barang tidak berguna. Jadi, masalahnya bukan pada kemampuan kita, melainkan kemauan kita untuk mengembangkannya,” tulis Athif dalam analisisnya.
Kota Palu sendiri memiliki potensi besar di bidang ini. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), volume sampah di Palu mencapai sekitar 79 ribu ton per tahun atau 200 ton lebih per hari. Sebagian besar adalah sampah organik yang sebenarnya bisa diubah menjadi energi atau nilai ekonomi.
Hal inilah yang sedang digagas dan dipraktikkan oleh tim di bawah bimbingan Muhammad Sadig, Dosen UIN Datokarama Palu. Mereka mengubah paradigma pengelolaan sampah melalui budidaya maggot (larva lalat).
“Inovasi ini sangat luar biasa. Sampah organik yang biasanya mencemari lingkungan dijadikan pakan maggot. Maggot yang tumbuh bisa dijual atau dimanfaatkan sebagai pakan ternak bernutrisi tinggi. Sisa olahannya pun tidak dibuang, melainkan dijadikan pupuk organik yang bagus untuk pertanian,” jelas Athif.
Upaya ini merupakan bentuk nyata respons terhadap arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memberantas sampah, serta konsep ekoteologi yang digelorakan Menteri Agama Nasaruddin Umar, juga imbauan Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid.
Sayangnya, inisiatif positif ini masih berjalan mandiri. “Sudah berjalan tiga tahun lebih, namun belum mendapat sentuhan atau dukungan maksimal dari pemerintah,” ungkap Sadig.
Krisis energi saat ini seharusnya menjadi momentum bangkitnya kemandirian bangsa. Biofuel dan pengelolaan sampah terintegrasi bukan sekadar solusi sementara, melainkan investasi jangka panjang.
Agar potensi ini bisa memberikan manfaat seluas-luasnya dan menjawab tantangan harga kebutuhan yang semakin mahal, peran pemerintah sangat dibutuhkan. Diperlukan dukungan kebijakan, pendampingan, dan pembinaan agar inovasi masyarakat bisa berkembang pesat.
“Sesuatu yang tadinya tidak bernilai bisa menjadi sangat berharga. Namun, ini semua membutuhkan sinergi. Semoga ke depannya ada perhatian serius agar kita bisa lebih mandiri energi,” pungkas tulisan tersebut.***

