Hadirkan dokter gigi, dokter anak dan Kepala BKKBN Sulteng, kegiatan di Palu Grand Mall bahas dampak layar, kesehatan gigi hingga peran orang tua dalam tumbuh kembang anak.F-nila
SULTENGMEMBANGUN.id, PALU – Kemendukbangga BKKBN Sulawesi Tengah menggelar talkshow bertajuk “Sayangi Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan” di Atrium Palu Grand Mall (PGM) Sabtu sore (8/8/2026). Kegiatan yang digelar berfokus pada progam Tamasya & GATI ini menghadirkan narasumber yang mengupas berbagai hal penting seputar tumbuh kembang anak, kesehatan gigi dan mulut, hingga dampak penggunaan gawai yang berlebihan.

Talkshow dipandu oleh Kepala Bidang K3 DP2KB Kota Palu, I Komang Gede Woliantara, S.SKM., MM., M.Kes., dengan tiga pembicara utama: drg. Martha Teang, Sp.KGA yang membahas deteksi dini gangguan gigi dan mulut anak, dr. Dimas, B.P., M.Ked(Ped), Sp.A yang memaparkan dampak screen time terhadap tumbuh kembang anak, serta Kepala Perwakilan BKKBN Sulteng, Nuryamin, S.TP., M.M yang menyoroti peran orang tua dan program prioritas Kemendukbangga dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Dalam paparannya di talk show tersebut, dokter anak dr. Dimas mengingatkan para orang tua untuk tidak membiarkan anak bermain gawai tanpa pendampingan dan pengawasan. Menurutnya, kebiasaan anak yang hanya menggulir layar (scroll) tanpa ada interaksi nyata sangat berbahaya bagi perkembangannya.
” Anak hanya menggulir layar, padahal yang diharapkan anak harus bisa berinteraksi dengan apa yang dilihat. Tanpa interaksi, ini berbahaya dan dapat memicu gangguan perilaku. Anak menjadi lebih agresif, apalagi jika bermain lebih dari satu hingga dua jam. Dampak jangka panjangnya bisa memengaruhi kesehatan psikologis anak,” ujar dr. Dimas.
Lebih lanjut ia menjelaskan, paparan cahaya biru dari layar gawai dapat mengganggu produksi hormon tidur atau melatonin. Akibatnya, anak sulit tidur dan kualitas istirahat menurun, padahal hormon pertumbuhan bekerja maksimal saat anak tidur nyenyak. Jika pola tidur terganggu, pertumbuhan fisik terhambat dan emosi anak menjadi lebih mudah meledak.
dr. Dimas juga menekankan bahwa aktivitas fisik harian anak disarankan mencapai sekitar 3 jam yang terbagi-bagi sehari. Yang terpenting, saat anak bermain, orang tua meluangkan waktu untuk mendampingi secara utuh, bukan sekadar menemani sambil melakukan aktivitas lain.

Sementara itu, drg. Martha Teang, Sp.KGA menyampaikan adanya keterkaitan erat antara kebiasaan menggunakan gawai dengan kesehatan gigi dan mulut anak. Anak yang makan sambil bermain gawai cenderung menelan makanan tanpa mengunyah dengan baik.
“Makanan yang tidak dikunyah sempurna tertahan di dalam mulut lebih lama. Tanpa proses pengunyahan yang baik, pertumbuhan rahang dan susunan gigi pun tidak berkembang optimal. Selain itu, anak menjadi menyukai makanan lunak dan manis yang berisiko tinggi menyebabkan gigi berlubang,” paparnya.
Ia juga mengingatkan agar orang tua membawa anak berkonsultasi ke dokter gigi sejak usia 6 bulan, tepat saat gigi susu pertama mulai tumbuh. Jangan menunggu gigi sakit atau berlubang baru berkunjung. Selain itu, pada usia 3–5 tahun saat anak sangat aktif bergerak, orang tua wajib mengawasi agar tidak terjadi kecelakaan yang dapat menyebabkan trauma dan kerusakan gigi.

Kepala Perwakilan BKKBN Sulteng, Nuryamin, menyoroti pentingnya peran ayah dalam pengasuhan melalui program Tamasya. Program ini bukan sekadar pesan singkat, melainkan pendekatan pengasuhan menyeluruh.
“Ayah harus menjadi pahlawan bagi anak, memahami lingkungannya, dan menjadi perekat keluarga. Peran ayah sangat dibutuhkan, baik saat anak balita maupun memasuki usia remaja. Pendampingan harus berjalan berkelanjutan sejak dini hingga dewasa,” ujar Nuryamin.

Menanggapi pertanyaan bagaimana tetap hadir meskipun jarang bertemu karena tugas dinas, Nuryamin menyampaikan pengalamannya sendiri. Bahwa ia rutin menghubungi anak minimal sehari sekali, menanyakan kabar, membantu menyelesaikan kesulitan belajar, serta memberi keteladanan terutama dalam hal ibadah dan pembentukan karakter.
“Anak adalah titipan yang harus kita bentuk. Selembar kertas putih yang kita tulisi nilai-nilai luhur, ketangguhan, pantang menyerah, percaya diri, dan sopan santun. Bukan sekadar fisik yang sehat, tetapi karakter yang membentuk masa depan mereka,” tegasnya.

Nuryamin juga memaparkan rencana pengembangan tempat penitipan anak berstandar di berbagai kabupaten dan kota se-Sulawesi Tengah, agar orang tua yang bekerja tetap tenang karena anak tidak hanya dititipkan, tetapi juga dibimbing tumbuh kembangnya, diajarkan nilai karakter, pola hidup sehat, serta kebiasaan berinteraksi yang positif.

Kegiatan berlangsung hangat dan antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang sesi diskusi dan tanya jawab. Orang tua yang hadir memperoleh wawasan lengkap mulai dari kesehatan gigi, gizi seimbang, manajemen waktu bermain gawai, hingga strategi pengasuhan yang hangat dan mendukung pembentukan karakter anak.(nila)










