Wamen Kemendukbangga, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka usai memberikan sambutan dan langsung meninjau pelayanan KB di RS Terapung yang bersandar di Pelabuhan Wani,Kabupaten Donggala.
SULTENGMEMBANGUN.id, DONGGALA – Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga / BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, S.Sos., memberikan sambutan sekaligus arahan resmi dalam kegiatan Intensifikasi Pelayanan Keluarga Berencana di Wilayah Khusus, yang berpusat di Desa Wani dan Desa Labuan, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Senin (28/9/2026).
Diawal sambutannya, Wamen menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan kegiatan ini.

“Terima kasih kepada Ibu Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Kepala Perwakilan BKKBN Sulteng, Direktur Rumah Sakit Terapung DR Lie Dharmawan Bayan Peduli dr. Monica Gloria beserta jajaran, Danramil, Kapolsek, perangkat daerah Kecamatan Tanantovea, Bapak Camat, Ibu Ketua TP-PKK Kecamatan, serta seluruh jajaran — PKB, PLKB, tenaga medis, kader, tim pendamping keluarga. Kalianlah ujung tombak di lapangan, yang bekerja keras melayani masyarakat,” ujar Wamen.
Ia menegaskan kehadirannya di wilayah ini bukan tanpa alasan: untuk memastikan pelayanan benar-benar menyentuh mereka yang membutuhkan, tanpa ada satu pun yang tertinggal.

Wamen kemudian menjelaskan secara mendalam empat faktor utama yang harus dikendalikan — dikenal sebagai 4T — yang menjadi akar tingginya risiko stunting dan kesehatan ibu-anak:
– Terlalu muda melahirkan, panggul perempuan belum berkembang sempurna, meningkatkan risiko persalinan tidak aman bagi ibu dan anak.
– Terlalu tua hamil, kualitas sel telur menurun, risiko komplikasi semakin tinggi.
– Terlalu dekat jarak kehamilan, masa pemulihan ibu belum lengkap; produksi dan kualitas ASI terganggu, padahal periode 1.000 hari pertama kehidupan — dari dalam kandungan hingga usia 2 tahun sangat menentukan masa depan anak. Pemberian ASI eksklusif 6 bulan dilanjutkan hingga usia 2 tahun dengan makanan pendamping sangat krusial.
– Terlalu banyak jumlah anak, kualitas perhatian, gizi, dan pengasuhan orang tua menjadi terbagi dan tidak maksimal.
“Perempuan berbeda dari laki-laki. Ada batas usia reproduksi, dan kualitas sel telur menurun seiring bertambahnya usia. Oleh karena itu, program Keluarga Berencana yang kami emban adalah amanah — hadir mendampingi masyarakat merencanakan keluarga yang sehat, sejahtera, dan berkualitas,” jelas Wamen.

Kehadiran Rumah Sakit Terapung di wilayah pesisir ini dinilai sebagai bentuk kolaborasi nyata — pemerintah pusat, daerah, dan mitra bersatu untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses. Prinsipnya, tidak ada yang tertinggal.
Wamen juga menekankan sinergi dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini tidak hanya untuk anak usia sekolah, melainkan juga harus menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita — tiga kelompok paling krusial dalam penurunan stunting.
“Saya berapresiasi luar biasa kepada tim pendamping keluarga yang bekerja tanpa kenal lelah memastikan MBG untuk Bumil, Busui, dan Balita terlaksana tepat sasaran. Tujuannya satu: menurunkan angka stunting, agar anak-anak kita tumbuh sehat, cerdas, dan kelak menjadi pemimpin bangsa — mewujudkan Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Di akhir sambutan, Wamen mengaku tidak berlama-lama berpidato, karena ingin melihat langsung pelayanan yang berlangsung, berinteraksi dengan warga, dan memastikan setiap keluarga mendapatkan manfaat yang seutuhnya.(Nil)













