Wamen Kemendukbangga, Ibu Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, S.Soa., meletakkan batu pertama untuk pembangunan sanitasi (jamban) bagi keluarga beresiko stunting yang ada di Desa Salena, Kelurahan Buluri, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu. Di Desa Salena ada 3 Keluarga Penerima Manfaat yang dikunjungi Wamen yang beresiko stunting.
SULTENGMEMBANGUN.id, PALU – Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga / Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, S.Sos., melakukan kunjungan langsung ke Desa Salena, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu, salah satu wilayah khusus yang menjadi fokus percepatan penurunan stunting. Dalam kunjungan tersebut, diserahkan bantuan pembangunan jamban bagi keluarga berisiko stunting, yang dibiayai melalui Dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (CSR) BRI selaku Bapak Asuh Stunting yang bekerja sama dengan pemerintah dalam upaya mencegah dan menurunkan angka stunting.

Kegiatan peninjauan mencakup tiga rumah warga yang masuk kategori Keluarga Risiko Stunting (KRS), meliputi ibu hamil Kekurangan Energi Kronis (KEK) serta balita berisiko gizi kurang.
Kunjungan pertama mengarah ke kediaman Meri (21 tahun), warga asli Desa Salena yang kini sedang mengandung anak keduanya berusia 5 bulan. Ia melahirkan anak pertama saat berusia 19 tahun. Bersama suaminya, Tn. Apid (24 tahun) yang bekerja sebagai petani berkebun dengan penghasilan sekitar Rp 500.000 per bulan, keluarga ini menjadi sasaran prioritas pendampingan.

Kehamilan di usia muda serta keterbatasan ekonomi menempatkan keluarga ini dalam pemantauan ketat. Bantuan jamban dari BRI diharapkan meningkatkan kebersihan lingkungan, sehingga mencegah risiko penularan penyakit yang dapat mengganggu pertumbuhan janin maupun anak balita.
Lanjut ke rumah kedua, Wamen menyambangi Kamini (40 tahun), yang kini sedang mengandung anak kelimanya. Ibu yang belum tamat SD ini memiliki empat anak berusia antara 6 hingga 15 tahun. Suaminya, Tn. Ahyadin (45 tahun), juga bekerja sebagai petani dengan penghasilan di bawah Rp 500.000 per bulan.
Kehamilan di usia lanjut serta jumlah anak yang banyak menjadi perhatian khusus. Khusus di rumah kedua ini, bantuan diberikan dari Kemendukbangga BKKBN, berupa perbaikan fasilitas sanitasi diharapkan mendukung kesejahteraan ibu dan anak-anak, sekaligus mencegah stunting sejak masa kandungan.
Kemudian pada rumah ketiga, Ibu Wamen menemui Nur Akila Azzahra, Balita Berusia 1 Tahun 7 Bulan
Peninjauan ketiga mengunjungi Nur Akila Azzahra (1 tahun 7 bulan), anak yang memiliki berat badan 8,2 kg dan tinggi badan 74,8 cm. Ibunya, Riani (24 tahun), telah menggunakan KB suntik 3 bulan untuk mengatur jarak kehamilan. Ayahnya, Tn. Isman (27 tahun), bekerja sebagai buruh dan petani berkebun dengan pendapatan rata-rata Rp 500.000 per bulan.
Kondisi pertumbuhan balita ini menjadi fokus pemantauan gizi dan sanitasi. Pembangunan jamban yang didukung BRI diharapkan menciptakan lingkungan bersih yang mendukung penyerapan gizi serta pertumbuhan optimal anak.
Wamen menyampaikan apresiasi kepada BRI yang telah berperan aktif sebagai Bapak Asuh Stunting melalui program CSR-nya. Kolaborasi ini menyatukan upaya pemerintah dan dunia usaha untuk memastikan pencegahan stunting dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya melalui pemenuhan gizi, tetapi juga perbaikan sanitasi dan lingkungan yang sehat.

“Bantuan jamban ini bukan sekadar bangunan, melainkan bagian penting dari perlindungan kesehatan keluarga. Lingkungan bersih mengurangi risiko sakit sehingga gizi yang dikonsumsi dapat diserap dengan baik oleh ibu hamil dan anak-anak. Terima kasih kepada BRI yang telah hadir bersama kami menjangkau masyarakat yang membutuhkan,” ujar Wamen.
Diharapkan bantuan ini menjadi langkah awal perbaikan kualitas hidup keluarga penerima, sekaligus mendukung percepatan penurunan angka stunting di Desa Salena, Kecamatan Ulujadi, dan Kota Palu secara keseluruhan.(Nil)












