Ibu Wamen Kemendukbangga, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka saat berkunjung ke desa Labuan Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala. Bersama Kaper BKKBN Sulteng dan kader dan penyuluh KB yang menjadi ujung tombak program KB di lapangan.
SULTENGMEMBANGUN.id, DONGGALA – Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, S.Sos., menyampaikan arah kebijakan strategis dalam wawancara di lokasi kegiatan Intensifikasi Pelayanan KB di Desa Wani–Labuan, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Senin (28/9/2026). Kehadirannya bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia yang jatuh pada 26 September lalu.
“Kehadiran kami hari ini masih dalam rangkaian peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia. Pekan ini, operasional Rumah Sakit Terapung juga menjadi bagian dari upaya menyukseskan Bulan Kontrasepsi Sedunia,” ujar Wamen membuka percakapan.
Ia menjelaskan, sejak 7 September hingga 7 Oktober 2026, Kemendukbangga/BKKBN menggelar Pelayanan KB Serentak di seluruh Indonesia melalui mobil pelayanan, pos bidan, fasilitas kesehatan, hingga rumah sakit terapung yang berpindah-pindah menjangkau wilayah terluar.

“Indonesia sangat luas dan beragam secara geografis. Di sinilah peran rumah sakit terapung seperti ini di Donggala menjadi sangat penting mendekatkan layanan ke masyarakat yang sulit dijangkau. Ini juga sejalan arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto: kolaborasi pemerintah pusat, daerah, organisasi masyarakat, dan sukarelawan terus diperkuat agar rakyat benar-benar mendapatkan pelayanan KB yang dibutuhkan,” tegasnya.
Disinggung soal angka stunting nasional yang tercatat 19,8% pada data 2024, Wamen menegaskan pencegahan dilakukan secara menyeluruh, berpusat pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan, sejak masa kandungan hingga anak usia 2 tahun.
“Program prioritas Bapak Presiden, MBG 3B yang menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD, dilakukan tepat untuk mencegah stunting pada periode paling krusial ini,” jelasnya.

Selain itu, Kemendukbangga/BKKBN menjalankan program GENTING, Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting memberikan dukungan gizi di wilayah yang belum terjangkau program MBG.
Wamen menjelaskan penurunan stunting memerlukan dua pendekatan sekaligus:
– Intervensi Spesifik: pemenuhan asupan gizi langsung kepada sasaran.
– Intervensi Sensitif: ketersediaan air bersih, sanitasi, jamban, edukasi gizi, kebersihan, serta pengaturan jarak kehamilan.
Fokus utama pengaturan kehamilan adalah menekan “4 Terlalu” yaitu
– Hamil di usia terlalu muda
– Hamil di usia terlalu tua
– Jarak kelahiran terlalu dekat
– Jumlah anak terlalu banyak
“Keempat hal ini langsung berkaitan dengan risiko stunting. Melalui KB, kami edukasi keluarga agar merencanakan kehamilan dengan tepat demi kesehatan ibu dan tumbuh kembang anak,” ujarnya.
Terkait angka target penurunan, Wamen menyatakan mengacu pada kerangka yang ditetapkan Bappenas. Target jangka menengah menurunkan angka stunting ke 14% pada tahun 2029.
“Angka detail tahun 2026 akan kami sampaikan terpisah. Yang jelas, semua program berjalan beriringan dan kami berupaya sekuat tenaga agar target tersebut tercapai,” pungkasnya.(Nil)












