Bangga. Kadis Dikbud Kota Palu mendapat penghargaan sebagai pemateri praktik terbaik di Sulteng.F-ist.
SULTENGMEMBANGUN.id, PALU – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Palu mendapat kehormatan menjadi pemateri sekaligus meraih apresiasi dari Badan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Sulawesi Tengah. Kesempatan ini diberikan untuk membagikan berbagai praktik terbaik (best practice) yang menjadi strategi utama dalam mendorong peningkatan kualitas pendidikan di daerah setempat.
Penghargaan dan kepercayaan itu disampaikan dalam kegiatan Rapat Koordinasi (Rakor) Advokasi Penyusunan Dokumen Perencanaan dan Penganggaran Tahun 2027, baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang, yang berlangsung beberapa waktu lalu. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan se-Sulteng, Kepala Bappeda, serta Kasubag Perencanaan dari pemerintah kabupaten/kota hingga tingkat provinsi.

Kepala Disdikbud Kota Palu, Hardy, S.Pd., M.Pd., mengaku sangat bangga atas kepercayaan yang diberikan tersebut. Menurutnya, pencapaian ini adalah buah dari kerja keras seluruh elemen pendidikan di Kota Palu dalam menjaga dan meningkatkan mutu layanan pendidikan sesuai standar yang ditetapkan pemerintah.
“Alhamdulillah, hari ini kami mendapat penghargaan sekaligus kepercayaan dari BPMP Sulteng untuk berbagi praktik terbaik strategi Kota Palu dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami, karena strategi yang kami jalankan diakui layak menjadi contoh bagi daerah lain,” ujar Hardy saat dikonfirmasi, Minggu (10/5/2026).
Memahami Rapor Pendidikan dan Sistem Talenta
Hardy menjelaskan, dasar utama penilaian mutu pendidikan saat ini mengacu pada hasil Asesmen Nasional yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Hasil tersebut tertuang dalam Rapor Pendidikan, sebuah platform berbasis data yang menyajikan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan.

Indikator yang dinilai meliputi kemampuan literasi, numerasi, karakter, iklim kebhinekaan, keamanan, hingga inklusivitas di sekolah. Seluruh data ini diakumulasi menjadi capaian rapor pendidikan, yang kemudian menjadi dasar sekolah untuk mengidentifikasi masalah, melakukan refleksi akar masalah, dan merencanakan program perbaikan.
“Rapor pendidikan adalah potret mutu sekolah secara menyeluruh, bukan hanya satu indikator saja. Sementara untuk mencatat prestasi pelajar di bidang riset, inovasi, seni budaya, dan olahraga, kementerian memiliki Sistem Informasi Manajemen Talenta (SIMT), yaitu pangkalan data nasional terintegrasi. Jadi, AN untuk mutu akademik dan manajemen sekolah, SIMT untuk rekam jejak prestasi,” jelasnya.
Pihaknya meminta agar para kepala sekolah, guru, pengawas, dan mitra pendidikan memahami perbedaan kedua sistem ini agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam menafsirkan data.
Hardy memaparkan, salah satu alasan Kota Palu dipilih menjadi pemateri adalah konsistensinya dalam meraih predikat Tuntas Pratama pada Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan selama dua tahun berturut-turut. Meski capaian tahun ini turun tipis sebesar 0,9 poin, namun predikat Tuntas Pratama tetap berhasil dipertahankan. Capaian Rapor Pendidikan tahun 2024 lalu pun tercatat sebagai yang tertinggi.
Strategi utama yang diterapkan Disdikbud Palu adalah analisis mendalam terhadap data capaian. “Kita analisis capaian rapor pendidikan setiap satuan pendidikan, lihat indikator mana yang turun atau belum maksimal. Dari situ kita tentukan intervensi, apakah yang harus bergerak dinas pendidikan atau sekolah itu sendiri. Jangan sampai kita seperti ‘menggarami lautan’, tidak tepat sasaran. Kita harus tahu penyakitnya apa, obatnya apa, dan bagian mana yang sakit,” tegas Hardy.
Jika masalah berkaitan dengan kualitas pembelajaran, intervensi difokuskan pada peningkatan kapasitas guru melalui pemberdayaan komunitas belajar, Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), K3S, hingga MKKS. Dengan keterbatasan anggaran, pemberdayaan forum-forum guru ini dianggap cara paling efektif agar perencanaan dan pembelajaran berjalan baik.
Selain akademik, Hardy menekankan strategi penguatan di indikator karakter, lingkungan belajar, inklusivitas, keberagaman, dan kebhinekaan. Ia menegaskan pentingnya menciptakan pendidikan harmoni, bebas dari segala bentuk kekerasan.
“Saya minta kepada seluruh guru, hindari kekerasan verbal maupun fisik di sekolah. Anak-anak harus belajar dalam suasana aman dan nyaman. Tidak boleh ada perundungan atau bullying,” tegasnya.
Selain itu, keberagaman juga harus ditonjolkan. Misalnya dalam struktur organisasi OSIS, tidak boleh didominasi satu gender saja, harus ada keseimbangan antara laki-laki dan perempuan. Anak-anak berkebutuhan khusus juga wajib mendapatkan perhatian dan layanan yang layak, serta harus terdata dengan baik.
“Semua indikator inilah yang nantinya kami masukkan ke dalam dokumen perencanaan dan Rencana Kerja Anggaran (RKA) Disdikbud Kota Palu tahun 2027. Kami pastikan perencanaan berbasis data dan benar-benar menjawab kebutuhan riil di lapangan,” pungkas Hardy.
Kehadiran Disdikbud Kota Palu sebagai pemateri praktik terbaik ini menjadi bukti bahwa kebijakan yang tepat, terukur, dan berkelanjutan mampu menjadikan Kota Palu sebagai salah satu rujukan peningkatan mutu pendidikan di wilayah Sulawesi Tengah. (Nil)













