Memberi Sejuta Manfaat, OJK Jadi Sahabat Tani  di Desa Pandayora

Peran OJK dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Hijau yang Berkelanjutan

Bukti komitmen sinergi lintas sektor dalam mendukung program percepatan pengembangan ekonomi daerah dengan memberikan dukungan kepada petani coklat di desa Pandayora, Kabupaten Poso.

Penulis : Tati Nilawati

Perjalanan panjang yang cukup melelahkan sudah menjadi hal biasa bagi kawan-kawan dari OJK  Sulteng dalam mengayunkan langkah mewujudkan kesejahteraan petani sekaligus mendorong  percepatan peningkatan ekonomi  nasional terutama ekonomi daerah di Sulawesi Tengah.

Nyaris tak bisa dibayangkan letihnya tubuh melalui kondisi jalan yang penuh tantangan dan berkelok kelok dan  berlubang-lubang. Bahkan sesekali pastinya mobil akan terperosok ke dalam lubang bila  sopir tak hilai. Yang pasti, tubuh terguncang ibarat barang yang ditaruh dibagasi. Sesekali ada suara menyela, Pak sopir pelan-pelan, Kami bukan barang. Namun demikian, hal itu justru menjadi candaan di sepanjang perjalanan dan membuat rombongan dari OJK Sulteng semakin semangat untuk ingin segera sampai di desa tujuan yakni desa Pandayora dan ingin melihat senyum lebar para petani coklat yang bahagia menikmati hasil panen melimpah dengan harga yang menjanjikan.  Apalagi biji coklat desa Pandayora, sudah masuk ke pasar Ekspor. Disinilah andil OJK Sulteng dalam menyambungkan mata rantai dari pemodal ke petani dan memastikan keselamatan petani melalui perlindungan BPJS Ketenagakerjaan. Hingga para petani bisa bekerja dengan aman. Begitulah kira-kira gambaran  tim media dalam mengawal perjalanan  OJK menelusuri pelosok desa dengan jarak tempuh dari Kota Palu kurang lebih 347 Km hingga bisa sampai ke Desa Pandayora, salah satu desa di Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah. Desa yang terkenal dengan produk biji kakao yang berkualitas ekspor dan berstandar internasional.

Sinergi Lintas Sektor dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah di Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah.

Sekilas tentang kondisi masyarakat desa Pandayora.

Sepanjang jalan yang dilalui dari Kota Palu melewati  Tentena  menuju ke Desa Pandayora, salah satu desa di Pendolo, Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso, Di kiri kanan jalan terlihat pepohonan coklat yang terawat dengan baik. Bisa dikatakan bahwa hampir semua rumah di jalan menuju ke Desa Pandayora memiliki kebun coklat. Ada yang sudah berbunga dan ada juga yang sudah berbuah lebat tampak menggelantung dibawah dahan. Bisa disimpulkan bahwa hampir sebagian besar masyarakat Desa Pandayora adalah petani. Selain petani coklat juga ada petani sawah, yang menanam padi dan berkebun palawija seperti cabai dan sayur mayur. Namun sebagian besarnya adalah petani coklat yang sudah turun temurun dilakoni karena menurut petani di desa Pandayora, menjadi petani coklat adalah hal yang sangat menjanjikan Apalagi sekarang ini, Biji Coklat Pandayora dikenal sangat bagus dan berkualitas serta memenuhi standar ekspor. Makanya bisa mendunia lewat inovasi OJK dalam merangkul petani lokal untuk maju dan berdaya saing.

Peran OJK dalam memfasilitasi Petani dengan IJK dan BPJS Ketenagakerjaan.

Peran OJK dalam Medorong Produk Kakao Petani Desa Pandayora Hingga Mendunia

Dalam inovasinya yang tiada henti, Pihak OJK terus memberikan edukasi dan literasi ke masyarakat terutama masyarakat petani, Hingga ke pelosok desa. OJK menjalankan perannya dalam mendorong perluasan pembiayaan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah melalui ekonomi hijau yang berkelanjutan. Salah satu sasarannya adalah menjadikan petani coklat desa Pandayora menjadi petani yang berdaya saing dengan menghasilkan produk biji coklat yang berkualitas ekspor dalam memenuhi kebutuhan biji coklat di Negara-negara besar, salah satunya adalah Prancis. Sekarang desa Pandayora sudah menjadi salah satu pemasok biji coklat di Valrhona, Produsen coklat terbesar di Prancis.

Sabaruddin, Petani dari kelompok tani mekar 3, desa Pandayora, Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso.

Sabaruddin, salah seorang petani coklat dari Kelompok tani Mekar-3 Desa Pandayora, mengaku sangat berterimakasih kepada semua pihak terkait, terutama kepada  OJK yang telah memberi sejuta manfaat bagi petani coklat di Desa Pandayora. OJK hadir jadi fasilitator dalam mempertemukan petani dengan pemodal sekaligus menjembatani petani dalam hal perlindungan dan keselamatan kerja. Dimana awalnya para petani ini belum tahu perihal ini, karena yang di tahu hanya perlindungan kesehatan yang selama ini disebut BPJS kesehatan.

“Alhamdulillah kami bersyukur dan berterima kasih kepada OJK Sulteng, yang menghadirkan sejumlah pihak terkait di kegiatan penandatanganan MoU and Business Matching dalam ekosistem Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) terhadap Produk Kakao Kabupaten Poso, yang dilaksanakan pada 13 Oktober 2026 . Kegiatan ini dipusatkan di kantor koperasi karya bersama, desa Pandayora,” ucap Sabaruddin.

Pada kegiatan itu, petani diundang untuk mengikuti berbagai rangkaian acara diantaranya ada sosialisasi program dari para pemodal seperti PT PNM dan PT Pegadaian (Persero) Cabang Poso. Juga ada sosialisasi program dari BPJS Ketenagakerjaan yang memaparkan secara meluas terkait perlindungan dan keselamatan kerja bagi petani.

”Dari awal kegiatan sudah dipaparkan beberapa program ini cukup bagus sehingga saya semakin serius mengikuti dan menyimaknya hingga selesai,” kata Sabaruddin, petani coklat dari desa Pandayora, Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso.

Menjadi peserta di kegiatan itu, Sabaruddin sekali lagi menyampaikan terima kasih kepada pihak OJK Sulteng yang telah memfasilitasi kegiatan tersebut sehingga banyak informasi yang bisa diserap dan menambah wawasan petani baik dalam hal permodalan maupun terkait  adanya program perlindungan untuk pekerja termasuk bagi petani dari BPJS ketenagakerjaan  .

Awalnya petani ini juga tidak  tahu apa itu OJK. Dan setelah mendengarkan pemaparan dari pihak OJK, barulah kami pahami bahwa OJK hadir ditengah kami, memiliki banyak peran. Selain sebagai jembatan yang menghubungkan petani dengan pemodal, dan mengenalkan petani dengan program perlindungan ketenagakerjaan, OJK juga memberikan banyak pencerahan berupa edukasi kepada petani di desa Pandayora terutama dalam menyikapi maraknya informasi terkait pinjaman online atau pinjol ilegal. ” Dari OJK kami banyak mendapatkan informasi penting dan mengajak masyarakat untuk mewaspadai pinjol-pinjol ilegal yang marak berseliweran di media sosial. Sejauh ini,  Petani cuma tahu bagaimana membuat tanaman kakao bisa berbuah lebat dengan bimbingan ilmu dari penyuluh. Selain itu dari kegiatan OJK ini kami juga mendapat banyak manfaat, dapat informasi soal perlindungan bagi tenaga kerja, dan soal adanya bantuan permodalan. Olehnya kami terima kasih banyak kepada OJK yang telah banyak membantu petani meski tak secara langsung namun aksinya nyata kami rasakan manfaatnya ,” ucap Sabaruddin.

Peran Koperasi Karya Bersama (KKB) 

Sebelumnya, hasil panen dijual atau dipasarkan ke pengepul dengan harga yang kadang tak menentu. Namun disini kami dikenalkan oleh tenaga penyuluh dari Dinas Pertanian Poso,  bahwa ada Koperasi Karya Bersama (KKB) yang siap memberikan dukungan kepada petani. Dan ternyata, koperasi ini sudah bekerjasama dengan OJK Sulteng dan Pemerintah Kabupaten Poso termasuk para pemodal dari salah satu Industri Jasa Keuangan (IJK) yaitu dari PT PNM dan PT Pegadaian Poso dan membuat kesepakatan bersama dalam memberikan dukungan kepada petani coklat di desa Pandayora. Dan sekarang  koperasi ini menjadi sandaran petani dalam menjual hasil panen. Kehadiran koperasi ini banyak membantu petani dan menyelamatkan petani dari tindakan para tengkulak atau pengepul yang suka memainkan harga. “Koperasi ini juga mendapat dukungan dari Pemda Kabupaten Poso yang bersinergi dengan OJK Sulteng dan terus melakukan sosialisasi dan edukasi terkait inklusi keuangan kepada masyarakat khususnya kepada petani coklat di Pandayora. Banyak informasi yang bisa kita serap, Ini yang kami syukuri dari OJK,” ungkap Sabaruddin, ditemui di sela kegiatan penandatanganan MoU and Business Matching dalam ekosistem Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) di Kantor Koperasi Karya Bersama Desa Pandayora, pada Selasa 13 Oktober 2026. Sabaruddin juga menambahkan kalau petani cokalt desa  Pandayora merasa bangga dan bahagia karena biji coklat dari Desa Pandayora sudah mendunia.

Diharapkan kerjasama lintas sektor ini bisa berjalan dengan baik dan berkelanjutan serta memberikan nilai tambah bagi petani coklat untuk lebih berdaya saing.  Karena dari kerjasama ini dibutuhkan komitmen dari semua pihak, OJK memberikan edukasi dan literasi keuangan serta memberikan penguatan akses pembiayaan melalui Industri Jasa Keuangan (IJK), dan BPJS Ketenagakerjaan memberikan jaminan perlindungan bagi petani, Pemerintah Daerah Kabupaten Poso memberikan dukungan fasilitas melalui koperasi sebagai wadah penguatan ekonomi petani,” ujar Bonny Hardi Putra, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tengah di kegiatan tersebut.

Semua pihak terkait hadir dalam memberikan dukungan kepada petani di desa Pandayora, Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso.

Kabupaten Poso Jadi Sentra Produksi Kakao Sulawesi Tengah

Sebagai salah satu sentra produksi biji coklat nasional, Kabupaten Poso mencatat hasil panen mecapai 126.516 ton pada 2025. Ini merupakan sebuah pencapaian yang cukup luar biasa, ungkap Aryo, Deputi Direktur Pengembangan Lembaga Pembiayaan, Perusahaan modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan LJK Lainnya (PVML), yang turut hadir di kegiatan tersebut.

Kata Aryo, Potensi ini harus dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Dan ekosistem ini harus dijaga agar berjalan dengan baik, Pihak OJK akan terus memantau dan mengevaluasi jalannya program ini secara berkelanjutan. Yang utama adalah, semangat petani juga harus dijaga, peran koperasi dan dukungan pembiayaan serta jaminan perlindungan bagi petani harus berjalan beriringan agar ekosistem produksi biji coklat di Kabupaten Poso bisa tumbuh secara efektif dan berkelanjutan.

Apalagi tahun 2026 ini, permintaan dari Varlhona produsen kakao di Prancis meningkat hingga 12,5 ton, yang awalnya di tahun 2024 hanya 2 ton. “Tahun 2026 ini, permintaan biji kakao dari Varlhona sebanyak 12,5 ton, ungkap Miss Sincie perwakilan dari Perusahaan Varlhona, Prancis. Kata, Miss Sincie   bahwa biji coklat produksi petani dari desa Pandayora masuk kualitas biji kakao terbaik yang ramah pestisida.

Terkendala Pupuk Bersubsidi dengan Keterbatasan Stok  

Selama ini,  petani  terkendala soal ketersediaan pupuk bersubsidi yang jumlahnya sangat terbatas. Jadi terpaksa harus membeli pupuk yang non subsidi. Jumlah pupuk yang diberikan sesuai dengan luas lahan saja dan itupun diberikan hanya sekali dalam setahun. Sedangkan masa panen bisa sampai 2-3 kali setahun belum terhitung panen buah antara. Harusnya ini juga patut menjadi perhatian bagi pemerintah daerah setempat. Menyikapi hal itu, Bupati Poso Siap Memberikan dukungan kepada Petani dan akan membahas kembali masalah kebutuhan pupuk bersubsidi yang mana kebutuhan petani itu awalnya memang disesuaikan dalam Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). Namun demikian, Pemda Kabupaten Poso melalui dinas terkait akan segera menindaklanjuti masalah keterbatasan pupuk bersubsidi ini untuk dihitung kembali dengan memperhitungkan masa panen demi keberlanjutan program ini, ujar Suharto Kandar, wakil Bupati Poso yang turut hadir pada kegiatan tersebut dan memberikan dukungan penuh kepada petani coklat desa Pandayora, yang selama ini menjadi penyumbang terbesar untuk ekspor kakao dari Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *