SNLIK 2026: Literasi Keuangan Sejajar Antaragender, Tapi Kesenjangan Masih Terasa Secara Wilayah dan Pendidikan

Hasil SNLIK 2026, DKI Jakarta Pimpin Literasi dan Inklusi Keuangan Nasional, Keuangan Syariah Baru Mencapai 13,24 Persen.F-ist

SULTENGMEMBANGUN.id, JAKARTA — Hasil penghitungan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026 dengan cakupan yang lebih komprehensif menampilkan gambaran mendalam mengenai pemahaman dan akses masyarakat terhadap layanan keuangan, dilihat dari berbagai sisi karakteristik.

Perkotaan Lebih Tinggi, Antar gender Hampir Setara

Secara wilayah, warga perkotaan memiliki indeks literasi keuangan sebesar 72,54 persen dan inklusi keuangan 95,47 persen, lebih tinggi dibanding wilayah perdesaan yang masing-masing tercatat 64,42 persen dan 90,39 persen.

Namun dilihat dari jenis kelamin, angka literasi dan inklusi keuangan relatif setara. Indeks literasi laki-laki 69,54 persen dan perempuan 69,61 persen. Sementara indeks inklusi laki-laki 93,49 persen dan perempuan 93,73 persen.

Usia Produktif dan Pendidikan Tinggi Paling Paham Keuangan

Kelompok usia produktif 26–35 tahun menempati posisi tertinggi untuk kedua indeks: literasi 78,70 persen dan inklusi 96,27 persen. Sementara kelompok usia 15–17 tahun paling rendah, yakni literasi 56,04 persen dan inklusi 89,13 persen.

Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin tinggi pula indeks literasi dan inklusi keuangan. Lulusan perguruan tinggi mencatat angka tertinggi, yaitu literasi 93,46 persen dan inklusi 99,49 persen. Sebaliknya, kelompok yang tidak/belum tamat SD berada di posisi terendah: literasi 45,23 persen dan inklusi 85,80 persen.

Pekerjaan dan Wilayah Juga Tampilkan Kesenjangan

Berdasarkan pekerjaan, kelompok pensiunan, pegawai/profesional, dan pengusaha memiliki indeks tertinggi. Sementara kelompok petani/nelayan, belum bekerja, dan pelajar berada di posisi lebih rendah.

Secara provinsi, tiga tertinggi indeks literasi keuangan adalah DKI Jakarta (84,01%), Kalimantan Selatan (79,69%), dan Bali (78,77%). Untuk inklusi keuangan tertinggi: DKI Jakarta (99,74%), DI Yogyakarta (98,74%), dan Kepulauan Riau (98,43%). Sejumlah provinsi di kawasan Indonesia bagian timur masih mencatat angka di bawah rata-rata nasional.

Keuangan Syariah dan Penjaminan Simpanan Masih Menjadi Tantangan

Indeks literasi keuangan konvensional mencapai 69,57 persen, sementara keuangan syariah baru 43,07 persen. Demikian pula inklusi keuangan konvensional 93,53 persen, syariah hanya 13,24 persen.

Dari sisi penjaminan simpanan, 62,51 persen pemilik rekening mengetahui simpanannya dijamin, namun hanya 46,31 persen yang mengenal LPS. Pemahaman penjaminan polis asuransi bahkan lebih rendah, baru 12,47 persen. Sebanyak 30 persen masyarakat belum mengetahui sama sekali soal penjaminan simpanan maupun LPS, sehingga menjadi prioritas utama edukasi ke depan.(*rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *