OJK Turut merayakan hari Kartini.F-dok.ist
SULTENGMEMBANGUN.id, Rembang – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengajak seluruh masyarakat, khususnya perempuan Indonesia, untuk meneladani semangat perjuangan R.A. Kartini. Dalam peringatan Hari Kartini tahun ini, nilai-nilai tersebut diterjemahkan menjadi sikap mandiri, berpikir kritis, serta keteguhan dalam menjaga etika dan integritas, termasuk dalam upaya pencegahan kecurangan atau fraud.
Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Audit merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK, Sophia Wattimena, dalam kegiatan Inspiring Talkshow bertema “Kartini Menginspirasi: Berjiwa Independen, Teguh Berintegritas”. Kegiatan ini digelar di Pendopo Museum R.A. Kartini, Rembang, Jawa Tengah, dan diikuti oleh sekitar 4.720 peserta, baik secara langsung maupun daring.

Sophia menekankan bahwa peran perempuan kini sangat penting dalam pengelolaan organisasi dan pemerintahan. Faktanya, sekitar 57 persen Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah perempuan. Namun, tantangan masih besar, di mana pada tahun 2025 tercatat lebih dari 1.000 kasus kekerasan berbasis gender dan sekitar 80 persen korbannya adalah perempuan.
Selain di lingkungan kerja, perempuan juga memiliki peran fundamental di rumah sebagai pendidik pertama bagi anak-anak. Oleh karena itu, nilai integritas perlu ditanamkan sejak dini di lingkungan keluarga. Upaya ini juga sejalan dengan program pemerintah, yaitu Asta Cita keempat tentang kesetaraan gender dan pengembangan sumber daya manusia, serta Asta Cita ketujuh tentang pemberantasan korupsi dan tata kelola yang bersih.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB), Rini Widyantini, yang hadir secara daring menyampaikan bahwa integritas bukan sekadar nilai moral, melainkan dasar utama kepercayaan masyarakat terhadap negara. Tanpa integritas, kebijakan yang baik pun bisa kehilangan kekuatan dan pengakuan dari publik.
Untuk mendukung hal tersebut, Kementerian PAN-RB telah menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 17 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Konflik Kepentingan. Aturan ini dibuat agar aparatur negara bisa mengenali, melaporkan, dan menyelesaikan potensi benturan kepentingan agar setiap keputusan tetap berpihak pada rakyat. Rini juga mengapresiasi langkah OJK dalam membangun budaya integritas melalui program seperti Proud Without Fraud dan penerapan Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP).
Sementara itu, Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Amurwani Dwi Lestariningsih, menyoroti tantangan lain yang masih dihadapi perempuan, seperti diskriminasi dan hambatan untuk menduduki posisi penting. Ia mengimbau perempuan agar tetap teguh pada kejujuran dan etika dalam meraih cita-cita, sekaligus menjadi teladan dalam keluarga.
Dalam kegiatan ini, OJK menegaskan komitmennya untuk terus menjaga tata kelola yang bersih. Berbagai langkah dilakukan, mulai dari penerapan sertifikasi anti penyuapan di seluruh unit kerja, pengawasan ketat terhadap pemberian dan penerimaan hadiah (gratifikasi), hingga kerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
OJK juga mengajak perempuan, khususnya yang bekerja di sektor jasa keuangan, untuk berperan aktif dalam budaya anti-kecurangan. Masyarakat dan pelaku industri diimbau untuk memahami aturan serta berani melaporkan dugaan pelanggaran melalui Whistleblowing System (WBS), demi mewujudkan sektor keuangan yang sehat dan terpercaya.
Kegiatan ini juga menghadirkan narasumber inspiratif dan menayangkan pesan integritas dari berbagai tokoh perempuan nasional sebagai warisan semangat Kartini bagi generasi masa kini.***












